Indonesia dan Malaysia memiliki sejarah rivalitas tinggi dalam dunia sepak bola. Kedua Negara tersebut sebenarnya memiliki ikatan kekerabatan yang kuat, karena sesama penganut budaya melayu sehingga sering di sebut Indo dan Malaya sebagai Negara serumpun. Namum ketika berbicara tentang sepak bola, keduanya merupakan rival abadi dari Asia tenggara.
Setiap
kedua Negara ini bertemu selalu memainkan tempo tinggi bahkan cenderung keras,
bagi segelintir pencinta sepak bola Indonesia boleh kalah dengan Vietnam maupun
Thailand tetapi tidak untuk Malaysia. Oleh karena itu bentrokan di dalam lapangan
tidak bisa di hindarkan lagi, bahkan bentrokan tersebut sudah merembet sampai
keluar lapangan, baik ketika supporter Malaya away ke GBK stadium, maupun
ketika supporter Indonesia away ke bukit jalil stadium, ketika kedua Negara ini
dipertemukan dalam kualifikasi piala dunia 2022.
Saat ini mereka akan di pertemukan kembali dalam pertandingan terakhir kualifikasi Grup B piala AFF 2020, di mana saat ini Indonesia sedang memimpin di puncak klasemen, sementara Malaysia berada di peringkat ke 3 dengan perbedaan 1 point. Jika melihat klasemen grup, pertandingan ini merupakan penentuan bagi kedua Negara untuk melaju kefase berikutnya, hasil pertandingan draw saja sudah membuat Indonesia lolos grup B, tentu saja Indonesia sangat di untungkan dengan hasil draw di pertandingan terakhir kontra Vietnam.
Pertandingan
kali ini akan menjadi pembalasan dendam yang tepat jika membuat Malaysia tidak
lolos grup, akan kah coach shin Tae-yong memainkan tempo tinggi dan keras atau bertahan
seperti menghadapi Vietnam, tentu saja hasil pertandingan sepak bola tidak
hanya ada menang dan kalah, jika dengan draw saja sudah membuat Malaysia tidak
lolos grup, kenapa tidak? Jika hanya hasil seri apakah masyarakat Indonesia akan
puas dengan hasilnya, karena Indonesia di kalahkan Malaysia ketika keduanya
bertemu di GBK dan Bukit Jalil Stadium pada kualifikasi piala dunia 2022 lalu.